Malaka, The Cultural Melting Pot

Setelah sekian lama akhirnya saya menulis lagi disini. Ini juga bukan merupakan perjalanan yang terencana. Tujuan awal hanya untuk “Medical visit” ke salah satu pusat kesehatan yang lumayan “famous” di Malaka, jadilah saya hanya bermodalkan sebuah Nikon Coolpix S32 dan Lenovo S920 sebagai temannya karena tujuan awal memang bukan untuk melancong. Akan tetapi seorang fotografer tak selalu bermodalkan digital SLR yang canggih, ya kan?

Perjalanan berawal dari Batam. Kebetulan saat ini saya berdomisili di Batam dan tujuan pertama kami setelah Batam yaitu Stulang Laut, Johor. Perjalanan ke Stulang Laut ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit dengan menggunakan ferry penumpang dari pelabuhan Batam Center. Tiket Ferry ditebus dengan IDR 390K per orang untuk perjalanan pulang pergi. Disarankan untuk membeli tiket ferry PP karena harganya sedikit murah daripada membeli dua kali tiket one way.

Setibanya di Stulang Laut, dari pelabuhan saya menumpang taxi menuju terminal bus Larkin, biaya Taxi dari ferry terminal ke terminal bus sekitar RM 12. Di Larkin ada banyak pilihan bus ke berbagai tujuan di Malaysia, kali ini saya menumpang bus Delima tujuan Malaka dengan biaya RM 19 per orang. Perjalanan ditempuh dalam waktu 3 jam.

Tiga jam perjalanan akhirnya tiba diterminal bus Melaka Sentral. Dari Melaka Sentral dilanjutkan dengan taxi menuju Jl. Melaka Raya 1 menuju Johan Hotel tempat menginap selama berada di Melaka. Hotel ini menurut saya berada didaerah strategis, dekat dengan Mahkota Medical Center, Dataran Pahlawan Shopping Center, dan pusat kuliner Melayu. Sebenarnya ada banyak pilihan hotel didaerah ini, cuma pada saat itu cuma hotel Johan yang available.

Johan Hotel
Trend Hotel
Inside Johan Hotel

Melaka adalah negara bagian (state) dari Malaysia yang terletak disebelah barat daya semenanjung Malaysia. Kota pelabuhan yang sibuk dan strategis awal mulanya ditemukan oleh seorang bangsawan dari Singapura yang bernama Parameswara yang melarikan diri dari Singapura (pada saat masih berbentuk kerajaan) karena invasi Majapahit pada tahun 1390-an. Untuk sejarah lengkapnya mungkin teman –  teman bisa baca di Wikipedia, karena kalau saya tulis disini tulisan ini bisa jadi sangat panjang. Singkat cerita nya Parameswara dianggap sebagai pencetus lahirnya kota Malaka sehingga nama nya diabadikan menjadi salah satu nama jalan dipusat kota Malaka.

Downtown Malaka
Famous Mahkota Medical Center
Jalan Malaka Raya 1
City Park near Dataran Pahlawan Shopping Center

Menjadi kota pelabuhan yang ramai disinggahi bangsa – bangsa didunia menjadikan Malaka multikultural. Mulai dari bangsa Tiong Hoa, Belanda, Portugis, dan Inggris pernah ada dikota ini. Tidak heran banyak ditemui peninggalan bangsa – bangsa tersebut disini. Mulai dari gereja hingga bangunan – bangunan pemerintahan. Karena keterbatasan waktu saya hanya sempat mengunjungi beberapa tempat menarik saja. Karena itu postingan ini diberi judul “Journey to Malaka part 1” dan akan ada part 2 nya. Insyaallah.

Malaka City Tourism Map

 

Christ Church Malaka

Gereja ini dibangun oleh Belanda ketika berhasil merebut kekuasaan atas Malaka dari Portugis. Gereja ini dibangun pada tahun 1753 dalam perayaan seabad kekuasaan Belanda di Malaka.

Christ Church Melaka
Victoria Fountain

 

Gereja St. Paul

Gereja ini digagas dan dibangun pada tahun 1521 oleh bangsa Portugis bernama Duarte Cuelho. Gereja ini terletak diatas bukit di pusat kota Malaka sehingga mendapat julukan “Our Lady of The Hill”.

St. Paul Church
Inside St. Paul Church

 

Kincir Air Kesultanan Malaka

Kincir air ini dibangun pada tahun 2007 dan terletak ditepi sungai Malaka. Di sekitar kincir ini terdapat jejeran café dan hotel  dan merupaka tempat yang menarik untuk bersantai.

Kincir Air Kesultanan Malaka
Kincir Air Kesultanan Malaka
River Cruise
Riverside
Riverside

 

Menara Taming Sari

Menara setinggi  110m ini terletak bersebelahan dengan pusat perbelanjaan Dataran Pahlawan dan memiliki lift yang dapat berputar 360 derajat sehingga kita dapat melihat seluruh kota Malaka dari ketinggian 110m. Sayangnya saya tidak sempat mencoba naik ke menara ini, maybe next trip.

Taming Sari Museum
Menara Taming Sari
Top of Menara Taming Sari

 

Jonker Walk

Belum ke Malaka kalau belum ke Jonker Street.  Yup, nama aslinya adalah Jalan Hang Jebat, tetapi lebih populer dengan sebutan Jonker Street.  Mirip Malioboro nya Jogja. Jalan ini bersebelahan dengan Christ Church. Jalan ini terkenal dengan pasar malam nya. Banyak pedagang souvenir dan makanan dijalan ini. Ingin mencari oleh – oleh dan kuliner? Ada dijalan ini. Buat yang muslim, diteliti dulu kadar “halal” makanannya sebelum membeli. Sayangnya, ketika berkunjung ke Jonker Street ini cuaca sedang hujan, penjual dan pengunjung tidak begitu ramai. Oya, hati-hati dengan dompet anda kalau dipusat keramaian.

Jonker Walk
Jalan Hang Jebat.
Jonker Street
Dorayaki
Street Cafe at Jonker Street

 

Perkampungan Makanan Tradisional

Nah kalau disini lebih banyak halal nya. Surganya makanan melayu deh. Dekat dengan Dataran Pahlawan. Harga makanannya pun bersahabat.

Halal Food
Traditional Culinary

 

Sebenarnya masih banyak tempat –  tempat menarik di kota Malaka ini, tapi tidak cukup satu dua hari untuk menjelajah. Next trip mudah-mudahan saya bisa sharing lebih banyak lagi tempat-tempat menarik di Malaka. Tips dari saya kalau ingin berkunjung ke Malaka,:

  • Direkomendasikan untuk reservasi hotel (budget hotel) min 2 hari sebelum hari H, karena budget hotel disini laris manis. Tapi klo yg mewah kayanya ga perlu deh.
  • Buat daftar tempat yang ingin dikunjungi, untuk efisiensi waktu, uang, dan tenaga.
  • Berpenampilan yang santai dan biasa aja, tidak perlu seronok dengan perhiasan dan pamer gadget mahal disini, walaupun Malaysia lebih maju dari negara kita, jambret dan copet itu tetap ada, ingat pesan bang Napi.
  • Pastikan power bank penuh selalu.
  • Sedia payung dan sandal jepit, payung kalau teman-teman takut hitam karena panas atau kena hujan (kalau berkunjung pada bulan penghujan). Kalau saya selalu sedia payung di backpack.
  • Jangan lupa bawa kamera ya. At least Pocket Cam beserta chargernya.

See you on next Malaka’s trip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *